Perkawinan Anak di Jateng Tinggi, Ganjar: Tak Hanya Turunkan, Tapi Hapuskan!

10 Juni 2021, 14:17 WIB
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo /Humas Jateng/humas.jateng.go.id/

SalatigaTerkini - Meningkatnya angka perkawinan anak membuat pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertekad menghapuskan perkawinan anak.

Tingginya angka perkawinan anak akan berkorelasi dengan meningkatnya angka kemiskinan.

Pemerintah harus berupaya keras untuk menghilangkan perkawinan anak serta menurunkan angka kemiskinan.

Selain peran pemerintah, juga harus ada pemahaman kolektif mengenai bahaya pernikahan anak yang perlu dibangun semua elemen masyarakat: akademisi, masyarakat, organisasi masyarakat, dan media.

Baca Juga: Inalillahi! Mobil Pusling Angkut Vaksin Covid-19 di Blitar Terguling Tabrak Tebing

Baca Juga: BTS Meal McD Indonesia Diborong Sisca Kohl, Netizen: Pantes Sold Out

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki gerakan Jo Kawin Bocah diinisiasi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jateng.

Gerakan ini bertujuan untuk mengajak semua elemen masyarakat memahami dampak negatif dari perkawinan anak yang dapat memicu masalah ekonomi, kehamilan, dan kematian orang tua,

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menyampaikan bahwa kebanyakan korban pernikahan anak adalah perempuan.

Baca Juga: Gofar Hilman Terganjal Isu Pelecehan Seksual! Nikita Mirzani: Dia Orang yang Baik dan Sopan

Ia pun mendengar langsung penuturan dari seorang ibu yang anaknya nikah dini lantaran hamil duluan.

"Pemerintah mempunyai regulasi. Tapi memang kalau pemerintah punya, regulasi bisa masuk kamar tidur? tidak bisa."

"Ada proses dan melibatkan banyak orang, ada Unicef, ada MUI (pemuka agama)." kata Ganjar dalam Talkshow Gelar Expo Jo Kawin Bocah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Rabu, 9 Juni 2021.

Baca Juga: Gofar Hilman Diduga Lakukan Pelecehan Seksual! Kartika Jahja: Banyak Sifat yang Tidak Diketahui Publik

Sehingga, ia menegaskan jika banyaknya kasus kawin anak di Jateng tinggi jangan menyalahkan anak-anak, tetapi juga orangtua.

"Jadi tidak hanya kenakalan anak-anak dan remaja, tapi kenakalan orangtua. Ya kalau kawin bocah tinggi di Jateng yang salah ya gubernurnya karena tidak mendidik, ora usah nyalahke wong (tidak perlu menyalahkan orang lain). Anak-anak butuh pemahaman melalui proses belajar, tidak hanya di sekolah tapi juga rumah dan lingkungan," tegasnya.

Sementara, Kepala DP3AKB Jateng, Retno Sudewi memaparkan angka perkawinan anak di Jateng cukup tinggi.

Baca Juga: Komentari Dugaan Pelecehan Seksual yang Dilakukan Gofar Hilman, Fiersa Besari Dapat Dukungan Warganet

Sebagai informasi, pada 2019 ada sebanyak 2.049 kasus pernikahan anak, kemudian pada 2020 atau saat pandemi melanda meningkat drastis menjadi 12.972.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan angka kasus perkawinan anak yang tinggi bisa dicegah. Sehingga kasus bisa diturunkan dan paling tidak dihapuskan.***

 

Editor: Resky Tri Nur Said

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terkini

Terpopuler